Sate yang bukan sembarang sate
Republika 16 Juni 2006
Bila berkunjung ke daerah, kenali dulu bahan makanan "aneh" yang akan kita santap agar terbebas dari asupan bahan tidak halal.
SOLO
Ada sate yang bukan sembarang sate di Solo. Namanya "sate jamu". Sekilas, tak ada yang aneh pada makanan ini, lumrah seperti sate kebanyakan. Embel-embel jamu di di belakangnya, lebih menggiring asosiasi pembeli pada jamu gendong atau produk herbal lain yang menyehatkan. Namun, setelah diamati dan diteliti lebih lanjut, ternyata yang dimaksud dengan sate jamu bukanlah sate yang dibubuhi jamu atau yang berkhasiat jamu. Sate itu sebenarnya hanyalah nama samaran dari sate yang terbuat dari daging anjing! Makanan ini dijual orang di warung-warung pinggir jalan antara Solo dan Boyolali, serta jalan lain di sekitar Kartosuro. Penggunaan nama menu yang tidak berterus terang ini menimbulkan persepsi yang salah bagi konsumen muslim. Kalau yang ditawarkan adalah sate anjing atau sate babi, tentulah sebagai muslim kita akan menghindarinya dengan kesadaran penuh. Tetapi dengan nama yang tidak jelas tersebut bisa saja kita jadi tertipu dan memakan menu tersebut tanpa merasa bersalah.
BALI
Di Bali, orang mungkin sudah sangat terbiasa dengan makanan bernama "lawar". Masyarakat Bali sering membuat menu istimewa ini pada acara-acara hajatan mereka. Makanan ini terdiri dari bermacam-macam sayuran yang dicampur dengan daging dan bumbu. Sepintas makanan ini mirip dengan urab di Jawa. Tidak banyak yang tahu bahwa di dalam lawar tersebut sering ditambahkan darah segar yang dikucurkan. Biasanya berasal dari darah ayam atau hewan lainnya, yang ditambahkan bersama bumbu-bumbuan. Adanya darah segar itu tentu saja menjadikan masakan tersebut haram bagi umat Islam. Apalagi darah yang masih mengalir tersebut ditambahkan dalam keadaan mentah, yang selain haram juga tidak sehat. Ada beberapa restoran modern yang sudah memodifikasi masakan daerah tersebut menjadi lebih higienis dan halal. Lawar yang sebelumnya banyak menggunakan darah segar itu telah dimodifikasi menggunakan bumbu-bumbu yang halal, seperti kecap dan sejenis saus. Tetapi kadang kita sulit membedakan mana lawar yang sudah disesuaikan dengan kebutuhan Muslim atau yang masih menggunakan bahan haram.
JAWA TENGAH
Di daerah lain di pulau Jawa masih banyak juga warung dan rumah makan yang menyediakan makanan haram secara tersamar. Anda mungkin sering mendengar istilah "marus", yaitu darah yang dibekukan dan dimasak menjadi lauk-pauk yang cukup populer di beberapa tempat di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Marus ini sering berada di deretan menu bersama dengan tahu, tempe dan lauk lainnya. Sepintas lalu marus ini mirip dengan tahu bacem yang berwarna cokelat gelap. Kalau disandingkan dengan tahu bacem, konsumen akan sulit membedakan mana yang marus dan mana yang tahu. Jika kita tidak kritis dan hati-hati, bisa saja tertukar, sebagaimana yang pernah dialami para pembeli dari luar kota yang tidak mengenal marus dengan baik. Ada pula marus yang dimasak ala sate, dengan membuatnya potongan-potongan kecil dan menusuknya dengan tusukan layaknya sate. Parahnya, masakan ini kemudian dicampur dengan sate-sate yang lain, seperti sate ati, telur puyuh, jerohan ayam dan kerang. Konsumen yang tidak tahu akan menganggapnya sebagai jerohan, karena bentuk dan warnanya mirip dengan sate ati. Sebagaimana lawar di Bali, marus yang berasal dari darah yang mengalir itu hukumnya adalah haram bagi orang Islam. Darah hasil dari proses penyembelihan hewan, seperti sapi dan ayam, selayaknya memang tidak boleh dikonsumsi oleh manusia. Selain haram, di dalamnya juga mengandung bakteri patogen yang bisa menyebabkan berbagai macam penyakit. Di rumah-rumah potong yang telah mendapatkan sertifikat halal dari MUI, pemanfaatan darah ini menjadi salah satu prasyarat, apakah ia layak mendapatkan sertifikat halal atau tidak. Jika masih memanfaatkan darah tersebut untuk keperluan manusia (dikonsumsi), maka rumah potong tersebut tidak bisa mendapatkan sertifikat halal, meskipun daging yang dihasilkannya disembelih secara Islam.
MANADO
Di Manado, sangat gampang mendapatkan masakan khas daerah itu yang berasal dari tikus. Tikus kelapa yang banyak terdapat di perkebunan kelapa di daerah itu diburu orang untuk dijadikan masakan khas Manado yang konon menurut penduduk setempat menghasilkan masakan yang enak. Harganyapun cukup mahal, ketika sudah disajikan di restoran-restoran. Jadi, sah-sah saja berwisata kuliner jika berkunjung ke berbagai daerah. Namun kehati-hatian tetap harus utama. Boleh-boleh saja mencoba masakan khas di daerah tersebut, tetapi ingat, standar kehalalan yang menjadi pedoman bagi seorang Muslim harus tetap dijaga.
Ir Nur Wahid Msi, auditor LPPOM MUI dan ketua redaksi Jurnal Halal.

2 Comments:
hmmm.. kudu lebih hati-hati nih kalau mau pilih makanan.owiyah.. salam kenal ya :-)
hi ayu. salam kenal juga ya. thanks for passing by
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home