Tuesday, December 26, 2006

Cerita yang tertinggal 1

23 Desember 2006

Berangkat tanggal 23 Desember jam 12.00. Saya sudah siapkan bekal (nasi uduk + ayam goreng) untuk dimakan sesampainya di hotel. Kita ga makan siang dulu karena takut ketinggalan kereta and ternyata keretanya malah telat sampai lebih dari 1 jam karena overbooking. Perut lapar, kepala pusing, and di depan, belakang, dan samping tempat duduk kami, isinya anak-anak. Kebayang kan ributnya?!

Sampai di tempat jam 16.00 yang seharusnya jam 15.45. Ke luar dari stasiun langsung kena udara dingin -2°C. You have no idea how I hate winter. So setelah keluar dari stasiun, instead of bringing us to the hotel appartement yang kita sewa, which is not far at all from their house, they brought us directly to their house. Hilang sudah harapan makan nasi uduk. Sampe di rumah mertua pengennya langsung makan tapi ga bisa, karena seperti biasa, orang sini hobbynya ngobrol di meja makan sambil minum teh. Untung ada kue2 kecil! yah lumayan lah bisa mengganjal perut sedikit. Tapi tetap saja masih terasa lapar. Sebenarnya kue yang tersedia di meja sih banyak, tapi ga mungkin kan saya ngambil terlalu banyak. Apa nanti kata ibu mertua saya kalo menantunya menghabiskan hampir semua kue2 yang ada di meja. Jadi terpaksalah ditahan.

Dua jam pun hampir berlalu. Kepala masih sedikit pusing, dan 7 gelandangan yang ada di perut saya mulai berontak. Rupanya kue2 kecil yang saya makan tadi tidak bisa mengatasi tingkat kelaparan mereka yang cukup tinggi. hmmmhh.. saya bingung harus bagaimana, saya butuh makanan yang cukup padat dan berat untuk menenangkan 7 gelandangan tersebut. Begitulah nasib kalo kelaparan di jam tanggung. Jam makan siang sudah lewat, jam makan malam masih jauh dari harapan hihihihi. Mau makan sendiri bekal yang saya bawa, ga enak sama yang lain. Akhirnya terpaksa saya tahan lagi lapar saya itu. Caranya, saya minum aja air banyak2. Ga papalah yang penting perut terisi.

Jam 20.00. Akhirnya jam makan malam pun tiba. Wajah mulai sumringah. Sisa2 harapan yang tadinya sudah pupus, sekarang mulai muncul kembali. Terbayang dalam benak saya waktu itu makanan yang enak2 karena walaupun belum malam natal (23 Des). Ternyata oh ternyata, mertua saya baru mulai masak makanan natal keesokan harinya (24 Des pagi), dan malam itu yang dihidangkan untuk makan malam cuma semangkuk kecil soup n baguette! dan asal tau saja ya, soup-nya orang sini (at least soup-nya mertua saya) itu cuma bawang perai dan wortel yang diblender plus diberi air, dan garam, lalu direbus. Nah buat saya, apapun yang bisa dimakan dengan sedotan (straw) itu bukan makanan melainkan minuman. That's it! enough is enough kata saya dalam hati. Terserah mereka mau bilang apa, tapi saya mau makan nasi uduk+ayam goreng yang saya bawa dari rumah.

Saat saya beranjak dari kursi untuk mengambil bekal penyelamat saya itu, seseorang dari mertua saya bertanya mau kemana saya. Saya bilang kalo saya mau mengambil bekal yang saya bawa dari rumah. Salah satu dari mereka menjawab dengan sindiran yang amat sangat tidak enak. "Masa masih lapar sih?? Kalau makan malam itu jangan terlalu banyak, ga sehat!" Ya memang benar sih apa yang dia bilang, tapi kan dalam hal ini saya baru makan 1 potong roti tawar dan 2 potong kue kecil dari pagi. Saya pun bergeming. Saya keukeuh mau ambil bekal saya itu. Sampai akhirnya dia pun bertanya lagi kapan bekal saya itu dibuat. Saya jawab saja bahwa itu left over dari semalam sebelumnya dan tanpa diperiksa lebih dulu dan tanpa basa-basi lagi, ia ambil bekal saya itu sambil berkata "kalo gitu saya kasih kucing saja ya.. pasti sudah ga enak".

Ya Allah apa sih salah saya? Saya ini capek dan lapar. Lagipula enak ga enak itu kan makanan saya dan saya yang akan makan bukan dia, kalau saya keracunan toh saya ini yang akan keracunan bukan dia. Kemarahan saya sudah memuncak, tapi saya cuma bisa istighfar supaya diberi kesabaran karena biar bagaimanapun dia itu ibu dari suami saya. Saya coba bicara baik2 dengannya. Saya bilang, "biar nanti saya saja yang buang, saya cicipi terlebih dulu, kalau tidak enak baru saya buang". Dia menjawab, "Dari pada dibuang mending dikasih kucing". Dia benar dalam hal ini, dengan catatan makanan yang akan dia kasih ke kucing itu sudah not eatable anymore by us (human!!). Saya berusaha sebisa mungkin untuk diam dan bersabar. Saya hampir saja menangis menahan marah. Untung saja saat itu suami saya berusaha menjadi penengah. Dia ambil bekal itu, dan dia bilang "Saya yang akan buang bekal itu kalau sudah tidak enak, OK?!" dikembalikannya bekal itu ke dalam tas saya.

Saya pun tidak jadi makan. Nafsu makan saya hilang, berganti dengan nafsu amarah. Sepanjang sisa malam itu saya habiskan dengan diam, karena jika tidak begitu amarahlah yang akan ke luar dari mulut saya.

Jam 22.00 saat yang amat sangat sekali saya nantikan pun datang. Saatnya kembali ke hotel. Sesampainya di hotel apartement (kamar tidur, dapur, n kamar mandi), saya langsung memasukkan bekal saya ke microwave dan kami pun (saya dan suami) makan dengan lahapnya.

Jam 00.00 saya beranjak tidur dan berdoa sebelumnya agar hari esok lebih baik dari hari ini, dan agar saya diberi kesabaran dan kekuatan ekstra dalam menghadapi kemungkinan kata2 menyakitkan yang bakal saya dengar.

2 Comments:

Anonymous Anonymous said...

Duh...Sari ...kasihan amat kamu...hi hi hi..emang tuh kadang2 mertua atau kakak ipar atau adik ipar suka usil..dan mereka biasanya keras kepala kalo mereka itu perfect, aku jg pernah berantem ma mertua cewek dan adik ipar cewek...eh bener2 berantem mulut...kadang2 mereka jg menganggap kita datang dr dunia ketiga (orang italy bilang negara kita itu termasuk negara dunia ketiga)..jadi kadang 2 mereka anggap kita ini gak tau apa2 padahal kebalikkannya...dan usilnya itu ngurusin orang...aku dah beberapa kali berantem kok,tp mereka jadi baik ke aku..dan ngga lagi berantem dan mereka menghormati aku sekarang..apapun mereka ga berani ngomong sembarangan...dah..macem2 deh,bertahun2 aku lalui Sari...tp sabar deh...ya?

7:15 AM  
Blogger me said...

Iya mbak, aku paling sebel sama orang yang merasa that she is better than anyone else! Suka menganggap kita ini bodoh atau dari negara yang terbelakang. Belum lagi kalo masalah agama diungkit2. Wah males banget deh beneran. Untung kita tinggalnya jauhan mbak, jadi ketemunya cuma setaun sekali. Coba kalo sering?? bisa makan ati jual ampela kali... Jadi berhubung cuma setahun sekali dan sekali ketemu paling lama cuma 3 hari yaaaaa disabar2in ajalah.. walaupun suka gregetan..
but anyway, the last day was better. Alhamdulillah :)

7:15 AM  

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home