Balada Mie Ayam
Suatu saat di hari Sabtu. Jam menunjukkan pukul 12.30. Udara dingin masih tetap menyelimuti. Semangkuk mie ayam telah tersedia dan siap disantap. Kami berdua pun sudah siap berada di meja makan. Suapan pertama berhasil masuk dengan sukses. Ah nikmatnya... apalagi dicampur dengan sedikit kuah dan sambal, hangatnya benar2 terasa nyaman.
Tiba-tiba telepon berdering. Antara ragu-ragu dan tidak, suami saya menjawabnya. Ahhh ternyata ibu mertua! Dengan sopan dan santunnya suami saya berkata, "Maaf Maman.. kami sedang makan, saya telpon kembali setelah selesai makan ya.."
Kemudian.. tahukah Anda apa yang terjadi??? Suara perempuan di speaker telepon itu naik 5 oktaf!!!!!!!!! "Mais je veux te parler maintenant!!!!!! sudah lama saya tidak mendapat berita dari kamu!!!" Padahal baru minggu lalu suami saya meneleponnya.
Waktu pun berlalu begitu lambat 10 menit, 30 menit, 1 jam. Ahh betapa lambatnya waktu berjalan. Hingga akhirnya ibu mertua saya berkata "Sudah ya nanti saya telepon lagi, saya lapar, saya mau makan dulu sekarang". Ironis. Dalam hati saya menjerit, "APAAAA??????". Mungkin menurutnya hanya dia saja yang boleh makan dikala lapar. Wajarkah jika saya beranggapan ibu mertua saya itu begitu egois dan saya membencinya pada saat itu???? Namun apa daya semua sudah terjadi, saya hanya bisa mengelus dada dan trenyuh melihat mie ayam suami saya yang sudah terendam lama berubah menjadi sebesar tiang listrik!
Tiba-tiba telepon berdering. Antara ragu-ragu dan tidak, suami saya menjawabnya. Ahhh ternyata ibu mertua! Dengan sopan dan santunnya suami saya berkata, "Maaf Maman.. kami sedang makan, saya telpon kembali setelah selesai makan ya.."
Kemudian.. tahukah Anda apa yang terjadi??? Suara perempuan di speaker telepon itu naik 5 oktaf!!!!!!!!! "Mais je veux te parler maintenant!!!!!! sudah lama saya tidak mendapat berita dari kamu!!!" Padahal baru minggu lalu suami saya meneleponnya.
Waktu pun berlalu begitu lambat 10 menit, 30 menit, 1 jam. Ahh betapa lambatnya waktu berjalan. Hingga akhirnya ibu mertua saya berkata "Sudah ya nanti saya telepon lagi, saya lapar, saya mau makan dulu sekarang". Ironis. Dalam hati saya menjerit, "APAAAA??????". Mungkin menurutnya hanya dia saja yang boleh makan dikala lapar. Wajarkah jika saya beranggapan ibu mertua saya itu begitu egois dan saya membencinya pada saat itu???? Namun apa daya semua sudah terjadi, saya hanya bisa mengelus dada dan trenyuh melihat mie ayam suami saya yang sudah terendam lama berubah menjadi sebesar tiang listrik!

0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home