Where to live: an appartement or a house?
Aku dan suamiku punya pendapat yang berbeda tentang di mana kita harus tinggal nantinya.
Kalo suamiku, dia lebih suka tinggal di apartemen. Alasannya, pertama, lebih praktis, karena biasanya apartemen terletak di tengah kota, sehingga jarak ga jadi masalah. Subway dan supermarket hanya 1 menit jalan kaki dari letak apartemen, bisa pulang untuk makan siang saat jam istirahat. Jarak dan waktu tempuh kemana-mana ga pernah jadi masalah. Jadi selain hemat waktu juga hemat uang dan bahan bakar.
Kedua, menurutnya tinggal di apartemen lebih aman dan mudah. Kita gak gampang diganggu "sembarang" tamu karena selain ada attendant atau guardien-nya, di apartemen biasanya ada interkom or bahkan cameraphone. Jadi kita bisa nge-cek apa ini tamu yang kita inginkan atau tidak. Belum lagi kalo ada masalah, misalnya litrik mati, pipa bocor, wc mampet. Kita tinggal hubungi aja bapak attendant or guardien tersebut. Nanti dia deh yang ngurus semuanya. Terus kalo kita mau pergi2 untuk jangka waktu lama, kita ga perlu khawatir akan keamanan apartemen kita dan isinya, karena ya itu tadi ada pak attendant :)
Alasannya lainnya, harga rumah di tengah kota Paris mahalnya minta ampun. Hanya orang yang sangat kaya raya super duper banget sekali ampun2an yang bisa beli rumah di tengah kota Paris.
Nah kalo aku sebenarnya merasa ga pas tinggal di apartemen. Kenapa?
Pertama, aku lebih suka rumah yang ada tanahnya, yang di saat hujan bisa memunculkan aroma hujan yang khas. Terlebih lagi nanti kalau misalnya nanti sudah punya anak. Kayaknya kok riskan ya kalau tinggal di apartemen yang tinggi. Sekalipun apartemen yang ada di Paris ga pernah lebih dari 7 or 8 lantai, tapi kan tetap aja, begitu buka pintu anak-anak bisa langsung mengakses tangga atau elevator.
Kedua, soal masak-memasak. Seperti yang aku udah ceritakan sebelumnya, di apartemen kita ga bisa memasak semau kita. Jangankan ikan asin, aku pernah kok diomelin tetangga bawah hanya karena masak masakan india yang notabene bau bumbunya nendang banget.
Ketiga, toleransi harus tinggi. Kalau tetangga lagi pesta-pesta, mau ga mau kita juga ikutan pesta. Tapiii tunggu dulu!! ini bukan karena kita diundang lho, tapi lebih ke arah kebagian brisiknya. Untungnya jendela yang ada di rumah kita itu jendela berperedam suara, jadi suara2 dari luar ga akan masuk terlalu banyak. Bayangin aja kalo nggak?! Saat tetangga bawah lagi pesta, kita dipaksa untuk ikut dengerin musiknya yang hingar-bingar, nah kalo tetangga atas yang lagi pesta, bukan hanya musik yang terpaksa kita dengar tapi juga jedak-jeduk langkah kakinya, yang udah pasti bukan hanya 1 orang tp bisa lebih dari 10 orang. Ya jelaslah yaw namanya juga pesta. Yang paling menderita biasanya pas musim panas. Orang sini kan anti banget sama AC, karena menurut mereka ga sehat dan merusak lingkungan. Jadi kita harus buka jendela di waktu malam supaya ademan dikit. Nah kalo kebetulan ada tetangga yang lagi pesta, ya kita terpaksa begadang juga deh. Itulah yang memaksa kita akhirnya untuk beli kipas angin and AC portable supaya jendela bisa ditutup. *Sigh* untung biasanya pesta2 itu cuma diadakan pas akhir pekan, eh tapi ada juga lho jenis aktivitas lain yang biasanya dilakuin malam hari dan ga cuma pas akhir pekan. Bukan tidur loh...apa coba?? yakk benar faire l'amour :) alias making love. Bayangkan aja, saat musim panas, jendela terbuka, lagi pengen tidur, eh denger jedak-jeduk beritmik and desahan atau teriakan2 aneh dari lantai atas hehehe :) Halah halahhh mbok yao ditutup dulu itu jendelanya wahai tetanggaku!!! mo berbagi keceriaan ya?? hikhikhikhik...
Kalo suamiku, dia lebih suka tinggal di apartemen. Alasannya, pertama, lebih praktis, karena biasanya apartemen terletak di tengah kota, sehingga jarak ga jadi masalah. Subway dan supermarket hanya 1 menit jalan kaki dari letak apartemen, bisa pulang untuk makan siang saat jam istirahat. Jarak dan waktu tempuh kemana-mana ga pernah jadi masalah. Jadi selain hemat waktu juga hemat uang dan bahan bakar.
Kedua, menurutnya tinggal di apartemen lebih aman dan mudah. Kita gak gampang diganggu "sembarang" tamu karena selain ada attendant atau guardien-nya, di apartemen biasanya ada interkom or bahkan cameraphone. Jadi kita bisa nge-cek apa ini tamu yang kita inginkan atau tidak. Belum lagi kalo ada masalah, misalnya litrik mati, pipa bocor, wc mampet. Kita tinggal hubungi aja bapak attendant or guardien tersebut. Nanti dia deh yang ngurus semuanya. Terus kalo kita mau pergi2 untuk jangka waktu lama, kita ga perlu khawatir akan keamanan apartemen kita dan isinya, karena ya itu tadi ada pak attendant :)
Alasannya lainnya, harga rumah di tengah kota Paris mahalnya minta ampun. Hanya orang yang sangat kaya raya super duper banget sekali ampun2an yang bisa beli rumah di tengah kota Paris.
Nah kalo aku sebenarnya merasa ga pas tinggal di apartemen. Kenapa?
Pertama, aku lebih suka rumah yang ada tanahnya, yang di saat hujan bisa memunculkan aroma hujan yang khas. Terlebih lagi nanti kalau misalnya nanti sudah punya anak. Kayaknya kok riskan ya kalau tinggal di apartemen yang tinggi. Sekalipun apartemen yang ada di Paris ga pernah lebih dari 7 or 8 lantai, tapi kan tetap aja, begitu buka pintu anak-anak bisa langsung mengakses tangga atau elevator.
Kedua, soal masak-memasak. Seperti yang aku udah ceritakan sebelumnya, di apartemen kita ga bisa memasak semau kita. Jangankan ikan asin, aku pernah kok diomelin tetangga bawah hanya karena masak masakan india yang notabene bau bumbunya nendang banget.
Ketiga, toleransi harus tinggi. Kalau tetangga lagi pesta-pesta, mau ga mau kita juga ikutan pesta. Tapiii tunggu dulu!! ini bukan karena kita diundang lho, tapi lebih ke arah kebagian brisiknya. Untungnya jendela yang ada di rumah kita itu jendela berperedam suara, jadi suara2 dari luar ga akan masuk terlalu banyak. Bayangin aja kalo nggak?! Saat tetangga bawah lagi pesta, kita dipaksa untuk ikut dengerin musiknya yang hingar-bingar, nah kalo tetangga atas yang lagi pesta, bukan hanya musik yang terpaksa kita dengar tapi juga jedak-jeduk langkah kakinya, yang udah pasti bukan hanya 1 orang tp bisa lebih dari 10 orang. Ya jelaslah yaw namanya juga pesta. Yang paling menderita biasanya pas musim panas. Orang sini kan anti banget sama AC, karena menurut mereka ga sehat dan merusak lingkungan. Jadi kita harus buka jendela di waktu malam supaya ademan dikit. Nah kalo kebetulan ada tetangga yang lagi pesta, ya kita terpaksa begadang juga deh. Itulah yang memaksa kita akhirnya untuk beli kipas angin and AC portable supaya jendela bisa ditutup. *Sigh* untung biasanya pesta2 itu cuma diadakan pas akhir pekan, eh tapi ada juga lho jenis aktivitas lain yang biasanya dilakuin malam hari dan ga cuma pas akhir pekan. Bukan tidur loh...apa coba?? yakk benar faire l'amour :) alias making love. Bayangkan aja, saat musim panas, jendela terbuka, lagi pengen tidur, eh denger jedak-jeduk beritmik and desahan atau teriakan2 aneh dari lantai atas hehehe :) Halah halahhh mbok yao ditutup dulu itu jendelanya wahai tetanggaku!!! mo berbagi keceriaan ya?? hikhikhikhik...

6 Comments:
waaa...ko ngeri ya tinggal di apartemen...he...
ya begitulah..perlu toleransi tinggi
aku setuju sama mba sari..lebih enak tinggal di rumah dunk..apalagi yang halamannya luas..uhuuuuyyy...
pengennya sih gitu wid, tp we'll see aja deh nanti :)
Samaaa... suamiku juga senengnya tinggal di apartemen di tengah kota besar, sementara aku seneng tinggal di rumah di kota kecil yang tenang... punya halaman yang rumputnya bisa buat rebahan dan bisa nanem kembang or bumbu dapur, nggak rusuh dengan parkir dan macet... Tapi dengan alasan bahwa aku yang akan tinggal di rumah lebih lama (ibu rt) maka keputusan ya ikut kemauanku...hehehe....
Kalo ini terbalik mbak, kayanya aku yang harus ngikut keputusan dia, dengan alasan, kan dia yang harus bolak balik ke kantor, jadi dia milih tinggal di kota besar karena lebih praktis katanya.
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home