Wednesday, December 28, 2005

Christmast!!


me and my other family in France

Demi menghormati keluarga suami dan menjaga kerukunan dan perdamaian , aku ikutan dinner di rumah mereka saat malam natal. Biasanya kalau natal, maman (ibu dalam bahasa Prancis) bikin banyak masakan dan acara dinnernya pun lamanya ya oloooohhhh bisa sampai 3 jam-an loh. Biasanya gini nih urut2annya.
1. Wine or apperitive
2. Entrance biasanya gallantine (slice daging porc yang dipotong tipis2 dan dimasak special) tapi karena aku ga makan porc jadinya diganti daging kalkun.
3. Another entrance with slice of bread and caviar
4. Another entrance avocado that is mixed with shrimps
5. Again the entrance oysters
6. Main dish.. the turkey with chestnuts + red wine
7. Cheeses
8. Dessert + Champagne

Abis itu kebayang kan gimana kenyangnya dan banyaknya cucian piring :)

Tuesday, December 20, 2005

Back to frozen

People..I am in the cold country already

Seperti biasa keberangkatan kita kembali ke Prancis juga diisi tangis sesenggukan yang sudah dimulai dari 2 minggu sebelumnya. Berat rasanya meninggalkan keluarga, tapi ya mau bagaimana lagi, memang jalannya sudah harus begini.

1. Persiapan
Packing sudah dimulai dari 3 hari sebelumnya. Bawaan kita bertambah lagi 1 koper karena sekarang kita udah tau kalo MAL memperbolehkan setiap penumpangnya untuk bawa 30 kg. Seperti biasa, Ibu selalu jadi orang yang paling repot dan paling sedih atas kepulangan aku ini. Beliau yang sibuk menyiapkan segala sesuatunya. Dari mulai barang2 sampai makanan yang harus dibawa. Thanks to Ibu yang udah nyiapin rendang 1 kg, aku jadi gak harus capek2 masak begitu sampai di tempat. Makasih ya Ibu. Aku sayangggg banget sama ibu.

2. Di Soekarno-Hatta
Perjalanan ke airport agak diwarnai ketegangan, karena dengan kepadatannya yang tidak terkira, lalu lintas di Jakarta selalu jadi hal yang paling tidak bisa diduga. Pada waktu kita sampai waktu yang tersisa hanya 45 menit sebelum keberangkatan. Itu pun aku masih harus mengurus surat pernyataan bebas fiskal. Untungnya semua berlangsung cepat dan lancar. Setelah itu aku dan David kembali ke luar untuk say good bye ke bapak, ibu dan ade. Saat itu adegan tangis2an berlangsung lagi. Sedihhhhhhhh... . Untungnya cuma berlangsung sebentar. Coba kalau waktu tunggunya masih lama, pasti tambah sedih lagi.

Sesudah itu kita pergi ke bagian pemeriksaan passport. Nah di sini baru ketauan kalau ternyata masa tinggalnya David di Indonesia kelebihan satu hari. Aku udah deg2an ngeri aja tuh. Tau sendirilah gimana liciknya petugas2 imigrasi Indonesia. Untungnya aku ingat waktu mengurus visanya David di KBRI Paris petugasnya bilang ke aku supaya tidak membayar lebih dari 20 USD jika overstay karena hanya sejumlah itulah yang ditentukan pemerintah. Bener aja kan, mereka bilang aku harus bayar biaya overstay 30 USD (lebih 10 USD dari yang ditentukan). Langsung aja aku bilang ke mereka bahwa peraturannya hanya 20 USD bukan 30 USD. Alhamdulillah mereka langsung setuju dan ga minta macam2 lagi.

3. Di Pesawat
Di pesawat, lagi2 aku sedih. Lagi2 aku nangis. Pesawat belum juga take off aku udah kangen sama mereka. Sedihhhhhh.. . Aku bener2 ga peduli deh sama orang sekitarnya. Mau diliatin orang, mau dibilang cengeng, terserah; yang penting saat itu aku lagi sedih dan kalo orang sedih itu biasanya nangis. Normal kan??

4. Di Charles de Gaulle
Aku tiba di sini tgl 16 Desember jam 06.00 pagi. Brrrr..... dingin euy! Dari 30 °c langsung ke 2°c. Mana cuma pakai pullover lagi . Kita dijemput sama Greg and Fabrice yang pulang 2 minggu lebih dulu dari kita. Benar-benar teman yang baik. Hari Sabtu, rela bangun pagi hanya untuk jemput kita. Thanks guys.
Sampai rumah bikinin teh dan kopi buat mereka, ngobrol sebentar, mandi, terus tepar, tidur 10 jam full zzzz..zzzz..zz.....

Saturday, December 10, 2005

Which one is my home???*

Sebentar lagi saatnya pulang. Apa?! Pulang??? Pulang ke mana?? Bukannya ini rumahku??!!
Rasanya aneh nyebut kata pulang saat aku masih ada di rumah tempat aku tinggal selama 28 tahun. Aku ga mau pulang! Aku malas pulang! Aku nyaman di sini! Aku suka di sini! Aku dikelilingi orang2 yang aku sayang dan sayang sama aku!!Arrghhhh.. perasaan itu sudah mulai menghantui pikiranku 2 minggu sebelum kepulangan. Tapi bukankah dalam hidup ini kita memang selalu dihadapkan pada pilihan?? Kalau aku tetap di sini, aku akan terus dekat dengan keluargaku, mereka yang dengan tulus menyayangi aku dan siap membantu seandainya aku dalam kesulitan; namun seandainya aku jauh dari keluargaku, aku akan dekat dengan suamiku, sosok yang memang aku tunggu sejak lama dan dengannya impianku untuk membentuk keluarga dapat segera terlaksana.
Bingung?? IYA banget! Tapiii.. ini saatnya untuk jadi dewasa. Kalau aku tidak melakukannya sekarang, aku tidak akan pernah bisa melakukannya.

*(Postingan ini ditulis dengan gaya serius dan air mata berderai2 alias nangis sesenggukan)

Catatan Ketinggalan

I am back!! Kali ini dengan cerita jalan2 berikutnya. Setelah proses cooling down beberapa hari akhirnya pergi juga kita ke Bali.

1. Airport-Pesawat-Airport
Kita berangkat sekitar jam 17.00 dengan GIA. Memang mahal sih dibanding yang lain, tp karena hari itu ga ada lagi pesawat lain yang ke Bali kecuali hampir tengah malah ya udahlah terpaksa naik GIA. Cuaca ga gitu bagus waktu kita berangkat, hujan deras, bikin hati jadi ciut terutama pas badan pesawat ngelewatin turbulen yang bikin kita mikir, ini langit apa jalanan di Bekasi ya??!! :D but Alhamdulillah akhirnya kita sampai juga dengan selamat. Begitu sampai di bandara Ngurah Rai, kita sempat nunggu sekitar 30 menit karena si penjemput alias Fabrice belum datang. Usut punya usut ternyata dia salah jemput. Dia pikir kita bakalan lewat terminal domestik, padahal kalo kita naik GIA, kita keluarnya dari terminal internasional bukan yang domestik. Alhasil setelah nunggu beberapa saat, untung bapak supirnya punya inisiatif ngider2 airport, and ketemu deh kita sama mereka.

2. Di Kuta
Selama di Kuta, kita tinggal di hotel yang letaknya ga deket-deket amat tapi juga ga jauh-jauh banget dari pantai.
Nah lanjut ya, begitu sampai di hotel yang notabene udah malam dan udah capek, kita hanya jalan2 di sekitar hotel. Nah saat jalan2 itulah ada kejadian yang bener2 bikin kuping panas, tensi darah naik 100%, urat saraf mo meleduk, pokoknya asli bikin kita pengen makan orang!!! Jadi ceritanya gini, waktu itu kita (bapak, ibu, adek, aku, David, and Fabrice) lagi jalan2 santai di sekitar hotel. Terus kita ngelewatin segorombolan anak2 muda yang lagi pada duduk2. Keliatannya sih mereka rada mabuk gitu deh. Awalnya nice and smooth. Mereka cuma ngobrol sendiri.ehhhh... pas jarak 100 meter dari mereka, juegerrrrrrr... mereka tiba2 teriak "Sirs, you better go to Sanur!! The girls are more beautiful than those ones!!!" Kurang Ajar!!!!!!!!!!! Samber gledek bener tuh orang!! Dia pikir kita ini perempuan apa??? Lagian emang dia ga bisa liat apa? kita ini kan sama bapak and ibu and pakaian kita bebas tapi sopan (inget sticker jaman dulu yak?!!) Dasar bloon!! Tadinya kita mo datengin tapi ga boleh sama ibu and David. Kata ibu mending didiemin aja, mereka itu kan orang ga jelas, lagian mereka itu lagi mabuk jadi kerja otaknya tambah ga bener. So ya udah deh dengan berat hati kita diemin aja sambil bersumpah palapa dalam hati, "Kalo besok gue denger lagi tu orang ngomong gitu, babak belur babak belur deh!!".

3. Pura Besakih
Pura Besakih memang indah tapi mentality orang2 di sekitarnya yang tidak indah alias banyak punglinya. Sesaat sebelum masuk ke area pura, di pinggir jalan ada kantor resmi tempat kita harus beli tiket. Di situ cukup murah, harga reasonable maksudnya. Kita cuma dikenakan sekitar Rp. 10 ribu/orang. So far so good. Ga jauh dari tempat itu ada lagi kantor atau lebih tepatnya tempat mangkal preman yang mengharuskan kita untuk pakai guide. Berhubung kita udah pernah ke sana, kita putuskan untuk ga pakai jasa guide. Kita bilang ke mereka kalo kita ke sana hanya untuk liat2. Ternyata oh ternyata mereka keukeuh and maksa kita harus pake guide. Kira-kira begini ceritanya.

Petugas/Preman: "Maaf mbak mau pakai guide untuk lihat Pura?"
Aku: "Wah maaf Mas kita cuma mau lihat2 aja kok."
Preman: "Tapi bu ini peraturan wajib dari pemerinthah. Semua yang datang harus pakai guide"
Aku: "Loh sejak kapan kita dipaksa harus pakai guide. Surat peraturannya mana?"
Preman: "Ini surat perintahnya!" (sambil nunjukkin name tag yang nempel di bajunya)
Aku: "Itu sih name tag bukan surat! Bagaimana sih?"

Preman itu gebrak meja, and segerombolan laki2 lain yang lagi judi kartu di luar pos/tempat mangkal tersebut ikut ngelilingin kita (Aku, Adeku, David).

Preman: "Coba disuruh ke sini dulu itu yang tiga orang" (maksudnya Fabrice, bapak and ibu).

Bapak, ibu and Fabrice, digiring sama gerombolan preman itu untuk masuk.

Preman: "Mbak harus bayar 100 ribu untuk jasa guide"
Aku: "Hah??? 100 ribu?? gile banyak amat? ga salah tuh??"
Preman: "Iya mbak kan yang ikut banyak"
Aku: "Udah ga resmi, mahal lagi! Gak!! Pokoknya saya ga mau pakai guide!"
Preman: "Kalo ga mau bayar ya udah pergi aja"

Dalam hati beneran pengen aku jitak pake payung and pergi. Sayangnya ada Fabrice yang pengen banget ke sana jadinya ga jadi deh. Coba kalo nggak, dah dari tadi kali kita pergi. Timbang pura doang mah..

Aku: "Pokoknya saya ga mau kalo 100 ribu. Ini saya kasih 20 ribu aja. Kalo mau sukur ga mau ya udah!"
Preman: "Mbak jangan macam2 ya!" (sambil gebrak meja lagi).
Aku: "Saya juga bisa gebrak meja!!!! Mau 20 ribu sukur, ga mau ya udah"

Akhirnya diambil juga tuh duit 20 ribu. Dia melototin aku, gerombolan yang lain juga melototin aku sambil mengumandangkan kata2 yang bener2 ga pantas didengar.

In the end, kita berhasil juga masuk ke pura didampingi seorang guide yang lebih mirip preman kampung yang hobi beller. Di pura ada kejadian lagi, tu orang minta uang lagi. Ktanya untuk uang rokok. Aduhhhhh pusing!!! Duit melulu!!!! Untungnya ga protes waktu dikasih cuma 5 ribu. Bener-bener capek tarik urat saraf.

Setelah 1 jam kita keliling2 pura, akhirnya kita pulang dan sekali lagi kembali bersumpah palapa dalam hati "Sumpah!!! Ogah banget gue ke pura itu lagi, cihhhh!!!"

4. Gunung Batur
Berhubung area gunung Batur jauh dari mana2, untuk memudahkannya kita nyewa mobil. Area gunung Batur itu ternyata memang indahhhhhh syekalee!! Seandainya saja gak banyak tukang jualan... *sigh*. Ya sebenarnya sih selama tukang jualannya ga terlalu napsu ga apa2, tp kan karena sepi pembeli, yang ada mereka tuh yang napsu2 banget kayak predator. Kasian juga sih tapi kan... Anyway ini sekilas percakapannya.

Penjual: "Dek kaosnya dek?20 ribuan saja tidak mahal!!"
Aku: "Aduh maaf bu, terima kasih"
Penjual: "15 ribu saja dek tidak mahal"
Aku: "Nggak bu maaf"
Penjual: "20 ribu dua lah dek!"
Aku: "Aduh bu, nggak maaf, kan saya udah bilang dari tadi" (mulai senewen)
Penjual: "20 ribu empat lah dek" (desperate action)
Aku speachless, bingung mencerna benar gak ya yang aku dengar barusan. Bayangkan dari 20 ribu 1 jadi 20 ribu 4.
Sang Penjual tidak putus asa. Dia nekat taruh kaos2 itu di bahu aku. Aku bete aku taruh lagi di badan si Penjual dan ngacir tanpa tengak tengok lagi.

Kejadian serupa juga menimpa bapak, yang kebingungan harus bagaimana, dan putus asa karena setiap kali bapak mengembalikan tuh kaos, si penjual tetep ngotot ngembaliin lagi tuh kaos ke bahu bapak. Sampai akhirnya ibu turun tangan. Ibu ambil kaos itu dan dikembaliin lagi ke si penjual dengan wajah siap tempur, dan mission accomplished!!! :)

Lain lagi ceritanya sama adekku. Kalau aku dan bapak diserbu penjual kaos, adekku diserbu penjual kipas. "Kipasnya dek, kipas baunya enak ini, baunya enak" Kalo cara nawarinnya normal sih ga papa ya. Tapi ini udah ngelewatin batas personal. Kenapa aku bilang begitu, karena pas dia bilang "baunya enak ini dek, baunya enak!" si penjual itu mengacung2kan or lebih tepatnya nyolok2in kipasnya dekettttt banget (lebih kurang 1 cm) sama hidungnya adekku. :)) Asli lucu banget ngeliat tampang adekku waktu itu hehehe :) beneran kaya pengen makan orang :).

Sepertinya yang berhasil survive dari serbuan penjual cuma ibu, David and Fabrice, karena mereka bener2 no comment pas penjual itu nawarin dagangannya. Tips yang sangat berguna.

5. Taman Reptil
Taman reptil ini merupakan objek wisata yang tidak begitu popular. Kenapa? karena letaknya yang jauh dari mana2 (Mengwi) dan juga kondisinya yang tidak terawat. Tiket masuk ke taman reptil ini tidak mahal, hanya sekitar 20 ribu. Sebenarnya sih kurang tepat kalo disebut taman reptil karena ternyata tempat ini adalah tempat penangkaran buaya. Di sana kita juga bisa ikut memberi makan buaya. Caranya kita beli dulu bebek hidup yang memang disediakan di sana seharga 150 ribu, kita bawa bebek itu ke kandang buaya, and kita lemparin deh tuh bebek ke tengah2 buaya. Kasian juga sih sama tuh bebek, tapi asli deh rame, seru, and ngeri. Tuh buaya pada heboh banget pas tau ada bebek yang mendarat. Si bebek ketakutan dan lari ke luar dari kandang buaya, sampai si mas petugasnya harus lari ngejar2 tuh bebek hihihi... Selama proses kejar2an itu, aku mikir, kalo seandainya tuh bebek sampai menghilang, rugi juga dong aku, wong itu bebek termahal yang pernah aku beliii :D

Selain buaya, di sana juga ada debus. Itu loh sejenis atraksi yang menggunakan ilmu kekebalan (bukan imunologi lho :p:p). Di acara itu ada atraksi yang of course pake buaya. Di situ ceritanya tuh buaya ngebuka mulutnya dan si pemain debus itu masukkin kepalanya ke dalam mulut si buaya. Ternyata rahasia dibalik atraksinya itu, sebelum atraksi dimulai, si buaya dikasih anestesi or drug, yang ngebuat dia jadi stuned gitu dan si pemain debus bisa dengan mudahnya ngejalanin aksinya. Kalo nggak??? "wah crispy juga nih pemain debus" kata si buaya. :))

6. Ubud
Selama di Ubud, kita seakan2 dibagi jadi 2 kelompok. Fabrice and David jadi satu kelompok, sedangkan aku dan keluargaku jadi satu kelompok. Kenapa begini? karena Fabrice and David kan pengennya liat tari2an, pertunjukkan2 dll, sedangkan aku dan keluargaku lebih milih menikmati suasana, jalan2 n makan2 :). Ya bedalah lah ya turis internasional ma turis domestik. Mereka sibuk mengagumi seni dan budaya Bali sedangkan kita, lebih milih jalan2 ke pasar tradisionalnya :). Hasilnya in the end of the day, mereka pulang bawa banyak foto, kita pulang bawa banyak jajanan pasar and pernik2 kecil hehehe.

Monday, December 05, 2005

Rester Zen

Hii everyone :) akhirnya.. nothing is really better than home sweet home baby!!!! Capek juga ya ternyata berkeliling2 biarpun ga jauh2 banget. rencananya kita mo istirahat beberapa hari di rumah sebelum nantinya pergi lagi ke Bali karena kita udah janjian sama Fabrice. So tunggu lagi cerita jalan2nya ya :) ciaooo!!! :)

Sunday, December 04, 2005

Cerita Jalan-jalan III

Ok setelah berpuas-puas di Jogja, akhirnya kita sekeluarga (minus fabrice yang langsung ke Jawa Timur sendirian) memutuskan untuk mampir ke kampung halaman bapak (Magelang) dan ibu (Pekalongan).

1. Di Magelang
Pertama kita pergi terlebih dahulu ke kampung bapak, karena emang yang paling dekat dengan Jogja. Di sana kita ga lama2 sih cuma sehari aja di masing-masing tempat. Anyway tujuannya kan cuma untuk ziarah ke makam para leluhur. Habis itu, kita mampir sebentar ke rumah kakak-kakak bapak (4 orang + anak2nya). Seperti biasa mendadak atau tidak kunjungan kita ke sana selalu aja pulangnya dibawain oleh2 khas magelang banyakkkkk banget, dari mulai aneka kripik, getuk, wajik, dll. Malah kadang mereka nekat lho mo bawaain beras :). Beneran deh kekeluargaannya berasa banget. Dari semua oleh2 yang dibawain sama mereka. Aku paling suka sama yang namanya wajik. terbuat dari ketan, manis, super lengket tapi enak. Di Magelang ada toko wajik yang terkenal, namanya wajik Ny. Week. Banyak sih di jual di toko2 pinggir jalan, tapiiii aku ga tau deh mana yang asli or nggak. Jalan satu2nya ya ke toko Ny. Week yang terbesar kali ya. Anyway biar palsu, hampir sama kok enaknya. manis manis juga maksudnya hehehe :)

2. Di Borobudur
Berhubung kampung bapak dekat sama Borobudur, rugi dong kalo ga mampir terutama buat masku. Sama seperti halnya Jogja. Berkunjung ke Borobudur sekarang ini sudah ga senyaman dulu lagi. Sekarang ini banyak sekali, banyak banget, banyak amat, amit-amit, tukang jualan yang ga bisa nerima penolakan! Alias ngotot sampe titik darah penghabisan! Kalo yang ditawarin belum misuh2 atawa ngomel, si penjual itu belum puas. Sumpah deh beneran, kalo yang mo ngetes kesabaran coba deh ke sana. Tapi ingat jangan ke sana pas bulan puasa, karena berpotensi membatalkan puasa kita hehehe :) serius lho aku ini!
Bukan cuma itu, harga tanda masuknya juga kok aneh ya. Nyata banget kalo bangsa kita itu mata duitan. HTM buat pemegang KTP or passport RI cuma 15 ribu rupiah. Nah yang buat turis ini nih 11 dolar alias 110 ribu rupiah belum ditambah 10 ribu uang kamera dan 25 ribu uang handycam. Aje gile kan?? Beneran deh bikin males :(. Untung ga sering2 coba kalo iya, bete sekali diriku. Emang sih sasarannya bule... tp mbok ya jangan sebesar itu selisihnya; yang wajar2 aja deh kalo bisa. Betul ga sih??

3. Di Pekalongan
Setelah kampung halaman bapak kita lanjutin ke kampung halaman ibu. Dalam hal ini sekalian pulang ke Jakarta. Nah keluarga Ibu yang masih tinggal di Pekalongan kebanyakan yang udah pada sepuh, misalnya kakak ibunya ibu or sepupu ibunya ibu. yah seangkatan nenek aku semualah rata2 :).
Tapiii walaupun begitu mereka ga kalah lho sama yang muda2 di kampung bapak, tetep aja cepat kalau udah urusan oleh2. Malah yang ini lebih dahsyat dari mereka. Mau tau oleh2 yang mereka coba bawain?? Kelapa dan Beras!!!!! edan tenannnn :). Nah berhubung beratnya lebih dari 5 kg terpaksa kita tolak. Lha wong kita ini udah gendut2 kok yang ada di dalam mobil. Bagaimana kalo ditambah bawaan lagi. Nanti ga bisa jalan lagi mobilnya kalau ketemu tanjakan :). Selama di Pekalongan yang kita lakuin seperti biasa ziarah, terus istirahat sebentar di tempat keluarga Ibu and lanjutin lagi deh perjalanan pulang.
Dalam perjalanan pulang itu, kita pingin banget beli sesuatu yang khas pekalongan. Apalagi kalo bukan batik. Akhirnya kita terpaksa menginap 1 malam di Pekalongan secara semua toko sudah tutup pada saat kita sampe di daerah perkotaannya.
Abis itu besokannya kita pergi deh ke toko batik, baik yang grosir maupun yang butik. Mumpung ke sana jadinya aku bela-beli lumayan banyak dan ga ketinggalan seprey. I love seprey batik... :)

Cerita Jalan-jalan II

1. In the Becak
Jogja itu juga identik sama yang namanya becak. Jogja tanpa becak, bukan Jogja namanya. Becak Jogja itu beda sama becak di tempat lain. Selain bentuknya yang lebih tinggi, tempat duduknya juga lebih sempit. Jadi kebayang dong gimana sempitnya duduk di becak sama my husband?! :) Terpaksa duduknya ga bisa sejajar, ada yang maju dan ada yang mundur. Kalau nggak begitu, tulang pinggul serasa mau retak terhimpit badan becak and badannya suamiku hehehehe (hiperbola?? nggak tuh, realita!!! :D)

Again soal tawar-menawar, naik becak di Jogja juga harus nawar dan sepakat tentang harganya sebelum menempelkan pantat kita di bangku becak, soalnya kalo nggak, harganya bisa tiba2 berubah begitu kita turun. Nah biasanya abang becak itu bakal menawarkan kunjungan ke serangkaian tempat dengan satu tarif (mis., keraton, toko batik, toko lukisan, toko bakpia). Jangan heran juga kalo kita dibawa sama abang becak itu ke toko2 yang tempatnya nyelip2 di ujung gang and only God knows where, karena menurut teman saya yang lama tinggal di Jogja mereka memang dibayar oleh si pemilik toko untuk itu dan kalo si pengunjung beli sesuatu dari toko tersebut, mereka bakalan dapat komisi tambahan.

So buat yang mau jalan-jalan naik becak di Jogja, ingat tips jitu ini ya "Jangan Lupa Menawar"!

2. At Keraton
Semua juga dah pada tau kan, kalo yang namanya Keraton itu ya tempat tinggal Sultan. Ada yang berubah dari keraton yang aku ingat 2 tahun lalu. Dulu kayanya damai ya, tentram, semuanya serba resmi (maksudnya guide resmi, peraturan resmi, dll). Nah kalau sekarang ini, ga tau kenapa, semuanya serba dipaksakan, misalnya turis yang tadinya boleh memilih mau pakai jasa guide atau tidak, sekarang harus dan kudu pakai guide. Udah gitu, guide-nya sepertinya ga punya standar touring yang pasti; jadi ada sebagian turis yang dibawa lengkap ke seluruh bagian keraton, ada juga yang cuma dibawa keliling ke beberapa bagian, dan bagian lainnya dilewati. Oh Jogja-ku kenapa bisa jadi begitu ya??

3. At Prambanan
Nah tentang Prambanan ini ceritanya hampir sama kaya cerita aku waktu ke Monas. Kenapa aku bilang hampir sama, karena jalannya jauh, panas, and ga ada angkutan. Jadi ya terpaksa jalan kaki deh. Tp kali ini ga begitu bete kaya waktu di Monas karena ada adeku yang nemenin. Coba kalo cuma aku, masku and fabrice, wahhhhh bakalan bete banget, karena dibanding mereka berdua aku tuh yang paling ga doyan jalan. Maklumlah di Indonesia untuk ke mana2 dikit kan aku naik ojek, angkot or becak.

Lanjut ya.. ok, sekarang aku mau kasih info sedikit nih tentang Prambanan. Buat yang belum tau silakan dibaca untuk yang udah pada tau ya terserah mau diapain :)

Prambanan itu adalah candi Hindu terbesar yang terletak di perbatasan Jogja dan Jawa Tengah. Candi ini pertama kali ditemukan oleh seorang Meneer Belanda yang namanya C.A Lons pada 1773. Pertama kali ditemukan hanya berupa reruntuhan yang ditumbuhi semak belukar. Kemudian pada 1885 candi ini dipugar untuk pertama kalinya oleh lagi2 orang Belanda bernama Izzerman. Di kompleks candi Prambanan ini terdapat 3 candi utama: Candi Siwa, Brahma dan Wishnu. Candi yang paling gede adalah candi Siwa dengan luas 34x34 meter tinggi 47m, sedangkan 2 candi lainnya hanya berukuran 20x20 meter, dan tinggi 33 m.
Nah di pelataran kompleks candi Prambanan ini selama bulan Mei sampai Oktober, saat bulan purnama terdapat pertunjukan Sendratari Ramayana yang dimulai jam 19.00-21.00 WIB. Tiket bisa dibeli di tempat2 biasa atau langsung di tempat pertunjukan. Bergegaslah, tiket terbatas! Siapa lagi2!!!!Karacang Karacang Tararahu tararahu!!!!

Saturday, December 03, 2005

Cerita Jalan-jalan I

Hiii everyone I am back!! :) senangnya abis jalan2.. secara fisik sih capek, tapi yang penting kan keseimbangan rohani dah back to normal.


1. Departure
Waktu kemarin itu, berhubung acara beres2nya belum totally finish, untuk acara jalan-jalannya terpaksa my husband dan fabrice (sohibnya yang khusus datang dari Prancis untuk acara kita) berangkat duluan karena dia ga punya waktu lama untuk berlibur di Indonesia, dan berangkatlah mereka berdua, meninggalkan sang istri hiks.. hiks.. pengantin baru gitu lohhh!!! tapi ga papa kok cuma sebentar. Sebenarnya sih aku bisa aja ikut mereka, tapi kan kasihan juga keluargaku kalau mesti beberes sendirian.

2. At the hotel
Kita janjian untuk ketemuan di Jogja, setelah sebelumnya mereka sempat jalan2 sendiri dulu di Jawa Barat (rencananya sih keliling Jawa). Ada sedikit trouble waktu mau check in di hotel. Memang sih sudah dibook dulu sama my husband, tapi pas kita nyampe, tetap aja mereka ga percaya gitu kalo aku ini istrinya (again diskriminasi!!!dikira ayam kampung enak rasanya kali aku ini). Aku minta mereka untuk konfirmasi ke my husband, mereka ga mau dengan alasan sudah malam. Untungnya sodara-sodara, aku bawa surat nikah!!! Dengan kejutekan tingkat tinggi, nada sewot luar biasa dan semangat siap tempur, aku bilang "Lihat nih mas saya punya surat nikah!!! Lagipula ngapain saya bawa2 orang tua saya kalo saya perempuan ga bener!!!"
Akhirnya mereka ijinkan kita masuk... Syukurlah... Coba kalo nggak?!! Jangan macem2 ya mas, saya lagi bawa sendal banyak nih!!!! (Timpuk eh jualan sendal maksudnya!!).

3. At Malioboro
Ke Jogja tanpa ke Malioboro ibaratnya seperti ke Jogja tanpa ke Malioboro.. apa coba?!! Maksudnya ga lengkap kalo ga ke Malioboro gitu lho djeng, karena selain barang2 dagangannya yang unik2, suasananya juga ga sama dengan pasar pada umumnya. Itulah makanya kenapa aku suka ke malioboro. Tapiii… ada satu hal yang berubah dari Malioboro yang aku kenal 2 tahun yang lalu. Kalau dulu penjualnya hanya orang Jogja asli, sekarang nih jadi banyak orang dari luar Jawa, hmm…untungnya mereka fasih juga berbahasa Jawa, kalo nggak, wah.. Malioboro bakalan ga jauh beda deh sama pasar Tanah Abang n Taman Puring.

Bagi yang udah pernah ke Malioboro pasti tau deh cara paling jitu biar dapat harga murah. Yakkkkk Benarrrr!!! Nawar seperempat harga biar dapat setengah harga!!! Sadis sih memang, tapi kan lumayan setengah harga (namanya juga perempuan ).

Ada cerita lain lagi nih terkait tawar-menawar di Malioboro; tau sendiri kan, kalo kita jalan sama suami bule di pasar, pasti deh langsung dikasih harga dollar biarpun barangnya barang lokal. Makanya pas kita lagi ke sana tuh, aku dan suamiku dah kaya lagi musuhan aja alias berada di jarak aman, yah kurang lebih 10 meter deh. Aku, ibu dan adekku di depan, 10 meter di belakang baru deh my husband n Fabrice. Nah dari sejak di hotel, suamiku tuh dah bilang ke ibuku kalo dia lagi pingin beli gantungan kunci, jadi deh ibuku (master of tawar-menawar) yang beraksi. Ibu dengan keterampilan nawarnya yang sadistis, akhirnya bisa dapat satu penjual yang rela jadi korban. Terus pas lagi milih2 si penjual itu tanya buat siapa kok beli gantungan kuncinya banyak banget, dijawab deh sama ibuku kalo itu buat menantunya. Alhamdulillah acara jual belinya lancar.

Eitttssss… tapi nanti dulu ceritanya belum selesai, pas perjalanan kembali ke hotel, kita lewat penjual itu lagi. Nah karena kita pikir ga bakalan bela beli lagi, akhirnya kita jalannya bergerombol, penjual itu lihat, ehhh.. dese marah2 ke ibuku, dia bilang “owalahhhhh, iki tho mantune!!! Mantune bule kok ngenyange ora karuan?! Dasar pelit!!” (ya ampyuunnn, ini tho mantunya, mantunya bule kok nawarnya ampun2an, dasar pelit!!!) wuekekekekekeke kesel banget si mas2 penjual itu. Dengan santainya kita lewat aja sambil pura2 ga denger .

4. At the mall
Atas permintaan adikku aku ceritain juga deh apa yang kita lakuin di mall malioboro. Jogja sekarang udah berubah. Tampilannya ga seperti dulu lagi. Banyak banget dibangun mall yang kesannya maksa. Kenapa aku bilang maksa? karena kayanya kok ga menghormati tata kota yang baik. Lagipula karena udah terlalu banyak jadi sepi pengunjungnya.

Oupps kok jadi ngelantur. Sebenernya gini lho, aku tuh mau cerita tentang apa yang kita lakuin di mall yang ada di Malioboro. Waktu berkunjung ke mall itu, sebenernya kita ga niat belanja atau sight seeing. Jadi terus ngapain??? ke Time Zone!!! :d

Ya udah akhirnya kita berempat pergi ke time zone. Kebayang ga sih udah pada gede2 gitu masih pengen ke time zone. Di sana kita main beberapa game dengan napsu yang asli pooollllll banget, sampe diliatin orang2. Tapi kitanya sih beneran cuek beybeh ajalah, yang penting hepi.
Betul nggak ibu-ibu????